Berita - Katalis

Berita

WAWASAN

Sukses di era
disruptif

WAWASAN

Dalam sebuah laporan yang diterbitkan awal tahun ini, Asian Development Bank mendorong Indonesia untuk mempercepat transformasi industri melalui investasi dalam pengembangan keterampilan. Memang, untuk bangkit dari pandemi COVID-19, diperlukan ketangguhan.

Skills Lead Clarice Campbell menjelaskan bagaimana program Skills for Recovery Katalis menyediakan kerangka kerja menyeluruh untuk meningkatkan keterampilan pasar tenaga kerja yang mendukung ekonomi yang dinamis dan tangguh.

 

Pengembangan sumber daya manusia yang berkualitas menjadi agenda utama Pemerintah Indonesia. Presiden Joko Widodo secara terbuka mengimbau percepatan inovasi dalam “era disruptif”. Bagaimana posisi IA-CEPA dan Katalis menanggapi kebutuhan mendesak itu?

Keterampilan sangat penting sebagaimana dibuktikan oleh fokus Pemerintah Indonesia terhadap pengembangan sumber daya manusia. Sudah diketahui dan diterima secara luas bahwa Indonesia membutuhkan lebih banyak pekerja terampil karena kualitas pendidikan di negara ini belum memenuhi harapan industri. Oleh karena itu, Katalis berfokus pada pengembangan keterampilan, khususnya di bidang kejuruan, karena ada manfaat nyata yang dapat diperoleh Indonesia melalui kerjasama dengan institusi penyedia jasa pelatihan dan pendidikan kejuruan Australia. Pada saat yang sama, penyedia jasa pendidikan Australia juga perlu beradaptasi dengan perubahan lanskap pendidikan, sehingga memungkinkan kedua pihak memperoleh manfaat bersama – pelajar dan profesional Indonesia dapat mengakses layanan pelatihan berkualitas tinggi, sementara penyedia pelatihan Australia dapat mengakses peluang komersial di pasar yang sedang berkembang.

 

Katalis akan menanggapi kebutuhan mendesak akan inovasi di sektor keterampilan dengan mencocokkan penawaran dan permintaan. Saat ini, tidak ada mekanisme nasional bagi penyedia jasa pendidikan dari seluruh Australia untuk mengiklankan penawaran pelatihan dan kursus mereka di Indonesia. Akibatnya pelaku industri di Indonesia tidak menyadari peluang yang ada di depan mata mereka untuk memenuhi kebutuhan keterampilan. Demikian pula, banyak penyedia pendidikan kejuruan Australia tidak familiar dengan Indonesia dan kesulitan mengidentifikasi peluang yang ada.

 

Selama masa program Katalis, kami akan menghubungkan penyedia pelatihan Australia dengan industri Indonesia dan mengatasi berbagai hambatan yang ada. Penting bagi kedua negara untuk menciptakan model bisnis yang berkelanjutan, karena selama ini sektor pendidikan, dalam banyak hal, sangat bergantung pada mobilitas siswa internasional. Bukan berarti mobilitas tidak penting atau harus dihentikan, tetapi kesempatan ini hanya dapat diakses oleh sebagian kecil siswa atau profesional yang mencari kualifikasi atau peningkatan keterampilan baru. Bagi sebagian besar orang, akses ke pelatihan berkualitas tinggi yang tersedia di dalam negeri merupakan sesuatu yang penting, demikian pula ketersediaan pilihan kursus jangka pendek, menengah, dan panjang, serta pelatihan-pelatihan yang relevan dengan kebutuhan industri, sehingga pendidikan yang lebih inklusif dan dapat diakses semua pihak dapat tercapai.

 

Bagaimana cara Katalis mendukung pengembangan keterampilan dan penyediaan pelatihan di sektor-sektor prioritas?

Katalis mendukung pengembangan keterampilan dengan melibatkan para pemangku kepentingan utama industri, termasuk perusahaan perseorangan dan asosiasi, dalam mengidentifikasi kesenjangan keterampilan, dan menghubungkan mereka dengan penyedia pelatihan Australia. Saat ini, terkait penanganan pandemi, Katalis memiliki tiga sektor prioritas: kesehatan, pariwisata, dan ekonomi digital. Ada banyak alasan mengapa sektor-sektor ini dipilih, yaitu karena ketiganya sangat terpengaruh oleh pandemi dan merupakan sektor penyedia kerja utama bagi perempuan dan kelompok minoritas. Mereka yang mengikuti program Katalis akan mengetahui bahwa selain mendukung ide-ide yang berfokus secara komersial, kami juga mendukung pencapaian tujuan pembangunan. Ini adalah nilai tambah Katalis dan membedakan kami dari inisiatif serta organisasi lain yang ada yang juga fokus pada hubungan Indonesia-Australia.

 

Ini sangat penting untuk mendukung Indonesia dalam mencapai tujuan pembangunan ekonomi dan sosialnya. Seharusnya tidak mengejutkan jika partisipasi dari perempuan dan kelompok marjinal dalam angkatan kerja meningkat, karena sejatinya semua orang dapat menikmati manfaat pembangunan. Katalis berharap mendukung kolaborasi antara industri Indonesia dan penyedia pelatihan Australia sehingga ada peluang lebih besar bagi kedua negara, terutama bagi pekerja Indonesia yang kurang terampil, untuk mendapatkan keterampilan yang relevan di sektor-sektor prioritas ini.

 

Pertumbuhan ekonomi digital Indonesia merupakan salah satu yang paling pesat di Asia Tenggara. Seperti apa keterlibatan Katalis dengan para pemangku kepentingan di bidang ini terkait peningkatan keterampilan tenaga kerja digital?

Ekonomi digital adalah area fokus utama Katalis. Ledakan digital di Indonesia saat ini, yang makin dipacu pandemi, makin membuktikan pentingnya keterampilan digital bagi keseluruhan keberhasilan ekonomi Indonesia. Banyak pekerjaan dan bisnis, baik besar dan kecil, beradaptasi untuk menerapkan kerja jarak jauh dan hal ini memerlukan peningkatan literasi digital. Untuk mendukung prioritas ini, Katalis terlibat dengan para pemain utama digital untuk melihat potensi kerjasama mereka dengan penyedia pelatihan Australia dalam hal peningkatan keterampilan digital.

 

Katalis sedang mengkaji keterampilan apa yang tengah dicari oleh platform ekonomi dan pelaku usaha digital. Kami juga bekerja sama dengan para mitra untuk ‘menggali’ kebutuhan keterampilan dari situs dan platform lowongan pekerjaan ternama. Hal ini akan memberikan pemahaman yang lebih akurat dan agar kami dapat lebih efektif menjembatani hubungan dengan penyedia jasa pendidikan Australia. Manfaat lainnya adalah bahwa sektor ini dapat menjangkau daerah-daerah terpencil dan kelompok-kelompok yang terpinggirkan, termasuk usaha-usaha mikro, perempuan dan penyandang disabilitas. Dengan demikian, peningkatan keterampilan digital akan mampu mendorong pertumbuhan inklusif dan partisipasi yang lebih luas dalam pemulihan ekonomi.

 

Apa saja keuntungan bekerja dengan penyedia pelatihan Australia?

Ada banyak keuntungan bekerja dengan penyedia pelatihan Australia. Pertama, standar pendidikan Australia secara umum diakui secara internasional. Kualifikasi dari institusi Australia berguna bagi individu atau kelompok perusahaan dalam mencari pekerjaan, baik di Indonesia maupun di luar negeri.

 

Kedua, jika seorang profesional Indonesia memperoleh kualifikasi keterampilan tertentu dari penyedia pelatihan Australia, baik terakreditasi maupun tidak, ini dapat memberi mereka peluang untuk terlibat lebih jauh dengan Australia di masa depan. Peluang ini mungkin tidak langsung terlihat, tetapi ada banyak contoh lulusan yang mengikuti kursus pelatihan dari Australia yang beberapa tahun kemudian dapat melanjutkan studi atau bekerja di Australia atau dengan perusahaan Australia.

 

Selain itu, kesempatan untuk terlibat dengan organisasi pelatihan internasional memungkinkan pengembangan keterampilan lintas budaya. Mereka yang telah mengikuti pelatihan akan lebih menonjol karena dapat membawa lebih banyak ragam ide. Keterampilan semacam ini tidak hanya sangat berharga saat ini, tetapi akan semakin penting di masa depan karena kebutuhan untuk beradaptasi dengan Industri 4.0. Laporan McKinsey pada tahun 2019 menunjukkan bahwa bukan hanya keterampilan teknis yang dibutuhkan di tempat kerja di masa mendatang, tetapi juga keterampilan ‘lunak’ (soft skills). Untuk mengembangkan atribut diri tersebut, siswa dan pekerja perlu ditempatkan dalam situasi dan skenario yang akan menantang mereka untuk melatih kepemimpinan, mengembangkan keterampilan komunikasi dan bekerja dengan kelompok yang beragam.

 

Bekerja dengan para penyedia jasa pelatihan Australia dapat menjadi titik pembeda penting bagi pelaku industri yang ingin menonjol dari yang lain, dan ingin memberikan layanan berkualitas lebih tinggi. Seiring makin kompetitifnya pasar kerja dan makin mendesaknya kebutuhan akan sumber daya manusia yang memadai, akses ke pelatihan berkualitas tinggi bisa jadi jawaban yang dicari oleh industri Indonesia.

 

BLOG

“Recover Together, Recover Stronger”: Mengamati Potensi Kerjasama Sektor Pertanian Indonesia-Australia

BLOG

Ada yang menarik mengenai logo presidensi G20 Indonesia, jabatan kini resmi dipegang Indonesia mulai Desember 2021, menyusul acara serah terima di Roma akhir pekan kemarin.

Para penikmat batik akan mengenali dua motif utama dalam desain logo tersebut: gunungan dan kawung. Menurut Menteri Luar Negeri Republik Indonesia Retno Marsudi, terinspirasi bentuk gunung, motif gunungan melambangkan langkah menuju babak baru, sementara detail geometris kawungan menggambarkan keinginan untuk menjadi berguna bagi sesama. Keduanya menggarisbawahi seruan Indonesia bagi semangat untuk bangkit bersama melalui tema “Recover Together, Recover Stronger”.

Dalam konteks hubungan ekonomi bilateral Indonesia-Australia, pemulihan bersama dan lebih kuat memang menjadi hal yang terdepan dalam hampir setiap diskusi Katalis dengan pemerintah dan komunitas bisnis dari kedua negara. Kerangka kerja Indonesia-Australia Comprehensive Economic Partnership Agreement (IA-CEPA), yang kini memasuki tahun kedua pelaksanaannya, manawarkan peluang besar bagi Indonesia dan Australia untuk saling memanfaatkan sumber daya yang ada untuk pemulihan dan pertumbuhan yang lebih baik.

Di sektor penting pertanian, baik Indonesia maupun Australia merupakan pemain utama dalam perdagangan agribisnis dunia, masing-masing menyumbang USD 36,5 miliar dan USD 28,5 miliar dari total ekspor produk pertanian pada tahun 2020, di mana Indonesia menempati peringkat ke-11 dan Australia terbesar ke-17 (UN Comtrade & WITS 2021). Kedua negara juga berperan besar sebagai target pasar, di mana Australia mengimpor produk agribisnis senilai USD 18,3 miliar dan Indonesia mengimpor produk agribisnis senilai USD 16,6 miliar.

Mengingat perannya yang vital dalam menyediakan lapangan kerja bagi 29 persen tenaga kerja Indonesia pada tahun 2019, dan kontribusi hampir 13 persen terhadap PDB Indonesia pada tahun yang sama, perluasan sektor pertanian menjadi prioritas pemerintah Indonesia, terutama dalam rangka pemulihan dari pandemi COVID-19. Dibandingkan sektor pertanian Australia yang terdampak besar selama pandemi, Indonesia relatif tangguh dan menikmati pertumbuhan di tengah kontraksi pada sektor industri dan jasa. Saat ini, sektor pertanian memberi kesempatan emas bagi mereka yang kehilangan pekerjaan dikarenakan pandemi dan pulang ke kampung halamannya masing-masing, sementara para pemuda/pemudi juga menumbuhkan ketertarikannya untuk bekerja di bidang pertanian dengan dukungan yang kuat dari program-program pemerintah.

Perdagangan bilateral di sektor pertanian antara Indonesia dan Australia masih memiliki ruang untuk bertumbuh. Ekspor utama pertanian Indonesia ke Australia meliputi olahan kakao, sereal/tepung, tembakau, dan ikan serta hewan air dengan tren yang meningkat dalam beberapa tahun terakhir. Sementara itu, ekspor produk pertanian utama Australia ke Indonesia, diantaranya hewan, daging, sereal, produk susu, buah, dan kacang-kacangan, cenderung stagnan pada periode yang sama. Ekspor sereal (terutama gandum) telah turun tajam sejak 2018 dikarenakan kombinasi dari kekeringan di Australia dan meningkatnya persaingan dari negara lain, sementara produk hewani juga menghadapi persaingan yang lebih sengit.

Dengan memiliki akses terhadap perlakuan khusus hasil dari IA-CEPA, kedua negara dapat pulih bersama dan menjadi lebih kuat, bukan hanya dengan memanfaatkan pasar masing-masing, namun dengan memperluas peluang di luar perdagangan bilateral.

Seperti direkomendasikan oleh Centre for Indonesian Policy Studies (2021), akan ada keuntungan yang jauh lebih besar secara ekonomi jika Indonesia dan Australia melihat lebih jauh dari sekedar persaingan dalam hal sumber daya alam, dan mendorong komplementaritas pada tingkat yang lebih terpilah. Kerjasama dalam bentuk ‘powerhouse’ akan mengintegrasikan input Australia ke dalam ekspor agribisnis Indonesia, atau sebaliknya, memungkinkan kedua negara untuk lebih terintegrasi pada rantai nilai global.

Ada alasan tepat untuk ini. Jika kita amati ekspor produk makanan Indonesia dan Australia, terdapat perbedaan besar dalam penawaran mereka—produk yang paling tidak mirip adalah produk mentah, produk yang berhubungan dengan hewan dan olahannya, tanaman mentah dan sayuran dan olahannya, produk penggilingan dan sereal. Di ujung lain spektrum adalah produk yang lebih mirip seperti hasil laut, gula, lemak dan minyak, minuman, olahan sereal dan tepung, dan olahan makanan yang dapat dimakan lainnya.

Mengingat sedikitnya kesamaan produk, kerjasama di bidang agribisnis dapat menguntungkan kedua negara dalam meningkatkan dan memperkuat ekspor mereka. Sebagai contoh, gandum Australia berpotensi menjadi input bagi industri makanan Indonesia, yang kemudian dapat diekspor ke pasar ketiga.

Dengan mengejar kolaborasi ‘powerhouse’ dalam agribisnis, terdapat peluang peningkatan penanaman modal asing dari Australia, yang dalam beberapa tahun terakhir sebagian besar dialokasikan di sektor primer. Mempromosikan dan mengembangkan sektor yang mempekerjakan banyak perempuan juga akan sangat membantu dalam meningkatkan kesejahteraan mereka. IA-CEPA juga memudahkan peningkatan keterampilan perempuan sebagai bagian dari upaya meningkatkan kualitas pekerja di sektor pertanian.

Melalui kerangka kerja bagi peraturan yang lebih baik, penghapusan kebijakan perdagangan non-tarif yang tidak berdasarkan kebutukan kesehatan dan keselamatan, penghapusan kuota, dan informasi yang lebih luas tentang standar dan sertifikasi di sektor pertanian, IA-CEPA menyediakan dukungan nyata bagi perwujudan peluang kerjasama kedua negara.

Menggaungkan tema yang diusung oleh presidensi G20 Indonesia, sekarang adalah momentum bagi kita untuk bergerak maju bersama, lebih kuat.

 

Muhammad Rizqy Anandhika
Ekonom Perdagangan dan Investasi Katalis

WAWASAN

Lebih besar, lebih baik, dan lebih selaras

WAWASAN

Satu tahun sejak pelaksanaan Perjanjian Kemitraan Ekonomi Komprehensif Indonesia-Australia (IA-CEPA), baik Indonesia maupun Australia telah menegaskan kembali komitmen masing-masing untuk mendukung kepentingan bersama terhadap perwujudan kawasan yang aman dan sejahtera. Pada intinya, IA-CEPA merupakan suatu kerangka kerja yang dirancang untuk membuka potensi peluang ekonomi bilateral antara dua ekonomi terbesar di kawasan ini. Kami berbincang-bincang dengan Lead Adviser bidang Market Access di Katalis, Moekti Soejachmoen, untuk mengetahui bagaimana komunitas bisnis dari kedua negara dapat memanfaatkan peluang-peluang yang terbuka bagi pengembangan dan pertumbuhan.

 

Bagaimana IA-CEPA dirancang untuk mendukung peningkatan perdagangan dan investasi dua arah antara bisnis di Indonesia dan Australia?

IA-CEPA dirancang untuk meningkatkan perdagangan dan investasi dua arah antara pelaku bisnis di Indonesia dan Australia melalui beberapa cara seperti liberalisasi perdagangan berupa penghapusan tarif 100 persen untuk barang yang masuk ke Australia dan penghapusan tarif hampir 99 persen untuk barang yang masuk ke Indonesia, serta Ketentuan Asal Barang (Rules of Origin) yang paling liberal dibandingkan perjanjian dagang Australia yang lainnya yang berlaku untuk kendaraan listrik Indonesia. Di bidang keterampilan, IA-CEPA membuka jalan bagi program pertukaran dan inisiatif untuk meningkatkan kapasitas tenaga kerja Indonesia, serta investasi Australia yang lebih luas di bidang jasa pelatihan teknik dan kejuruan di Indonesia.

 

Kami juga mengharapkan kerjasama ekonomi yang lebih baik pada produk makanan pendamping seperti program kerjasama gandum dan daging merah dan pusat inovasi makanan. Akan ada kenaikan kuota tarif progresif untuk ekspor utama Australia ke Indonesia, termasuk komoditas pertanian dan sumber daya alam, serta izin impor Indonesia akan dikeluarkan secara otomatis dan tanpa faktor musiman untuk produk-produk tertentu yang tercakup dalam IA-CEPA. Perjanjian ini juga memastikan akses pasar atas layanan dan investasi yang lebih pasti bagi bisnis dan para penyedia jasa Australia di pasar Indonesia, termasuk tingkat kepemilikan Australia yang terjamin.

 

Bagaimana kedua negara bekerja sama dalam memastikan terwujudnya kerangka peraturan yang tepat untuk implementasi IA-CEPA yang efektif?

Indonesia dan Australia akan menggunakan IA-CEPA sebagai platform untuk meningkatkan hubungan ekonomi melalui berbagai mekanisme konsultasi untuk menyempurnakan prosedur perdagangan dan investasi dari waktu ke waktu. Ini menjadikan IA-CEPA suatu “kesepakatan hidup”. Hal ini didasarkan pada kajian kesesuaian semua peraturan dan regulasi yang berlaku di Indonesia dan Australia dengan komitmen IA-CEPA. Walaupun kebanyakan peraturan dan regulasi sudah sesuai dengan komitmen IA-CEPA, ada beberapa area perdagangan barang, perdagangan jasa, dan investasi yang belum selaras.

 

Bagaimana Katalis bekerja untuk mendukung ekosistem perdagangan dan investasi Indonesia-Australia yang lebih selaras?

Katalis mendukung pelaksanaan IA-CEPA dan membantu pelaku bisnis dari kedua negara memanfaatkan berbagai peluang untuk pengembangan dan pertumbuhan yang saling melengkapi. Kami bekerja di berbagai sektor seperti pertanian, manufaktur maju, dan sektor-sektor jasa, mencakup segala hal mulai dari arsitektur dan teknik hingga kesehatan dan perawatan manula. Kami mengidentifikasi dan mengembangkan peluang pasar baru, serta menginspirasi kemitraan bisnis-ke-bisnis baru yang akan mendorong perdagangan dan investasi antara dua ekonomi terbesar di kawasan Asia Tenggara. Katalis juga memberikan wawasan serta pengetahuan terkait pasar, saran teknis, reformasi kebijakan, dan pertukaran keterampilan di tempat kerja.

 

Apa saja industri yang telah diidentifikasi sebagai sektor prioritas di bawah IA-CEPA?

Beberapa industri yang telah diidentifikasi sebagai sektor prioritas di bawah IA-CEPA adalah Pertanian, Manufaktur Maju dan Jasa (keterampilan). Di sektor pertanian, Kemitraan Inovasi Agripangan bertujuan untuk melibatkan industri secara mendalam pada komoditas biji-bijian untuk bahan makanan (dengan tujuan untuk inovasi di Indonesia dan pasar ketiga) dan pakan ternak (untuk sektor pertanian yang lebih efisien dan produktif di Indonesia dengan sasaran kesehatan hewan yang lebih baik). Fokus awal dari manufaktur maju ada pada baterai listrik dan input sumber daya untuk mendukung rencana program kendaraan listrik di Indonesia. IA-CEPA juga mendukung kemitraan ekonomi yang lebih erat antara industri-industri Indonesia dan penyedia TVET (pelatihan dan pendidikan teknik serta kejuruan) Australia di sektor-sektor keterampilan utama melalui mekanisme ‘clearinghouse‘. Dimulai dari sektor pariwisata, pertanian, dan layanan digital, dengan potensi ekspansi selanjutnya ke bidang kesehatan, manufaktur maju, konstruksi, ekonomi kreatif, dan layanan sosial yang bergantung pada sumber daya yang tersedia serta peluang pelatihan yang layak secara komersial. Kemitraan yang berpotensi untuk meningkatkan partisipasi perempuan dalam TVET di Indonesia juga akan mendukung partisipasi tenaga kerja perempuan.

WAWASAN

Investasi cerdas melalui kesetaraan gender dan inklusi sosial

WAWASAN

Dengan beralih dari ekonomi yang didorong oleh sumber daya, upah rendah, dan modal, menuju pertumbuhan didorong produktivitas tinggi dan inovasi, Indonesia meraih kemajuan pesat menuju Visi Indonesia 2045 untuk menjadi negara berpenghasilan tinggi. Sejalan dengan Pilar Pertumbuhan Pengembangan Sumber Daya Manusia, Kemajuan Sains dan Teknologi, partisipasi tenaga kerja perempuan ditargetkan naik dari 49 persen di tahun 2015 menjadi 65 persen pada tahun 2045.

Katalis berkomitmen untuk mendukung pencapaian tujuan tersebut, tidak hanya melalui peningkatan keterampilan tenaga kerja, namun juga dengan mewujudkan pertumbuhan dan pembangunan ekonomi inklusif sebagaimana tertuang dalam Perjanjian Kemitraan Ekonomi Komprehensif Indonesia-Australia (IA-CEPA). Di setiap lini kerja Katalis, kesetaraan gender dan inklusi sosial (GESI) diarusutamakan sebagai sarana untuk memberikan akses dan peluang yang lebih besar bagi semua orang. Penasihat GESI Katalis Yulia Immajati berbagi pemikirannya tentang peran Katalis dan sektor bisnis dapat bahu-membahu mewujudkan kesetaraan gender dan inklusi sosial.

 

Mengapa isu kesetaraan gender dan inklusi sosial penting?

Kesetaraan gender dan inklusi sosial sangat penting karena dua alasan mendasar.

Pertama, berpartisipasi dalam dan merasakan manfaat dari pembangunan dan ekonomi adalah hak dasar bagi semua orang, tanpa memandang latar belakang sosial budaya, sosial ekonomi dan sosial politik. Hal ini secara jelas tertulis dalam konvensi internasional seperti Deklarasi Umum Hak Asasi Manusia dan Konvensi Penghapusan Segala Bentuk Diskriminasi, yang didukung secara aktif oleh Indonesia dan Australia. Semua orang dihargai keberadaannya tanpa memandang jenis kelamin, pendidikan, status sosial ekonomi, ras, etnis dan identitas budaya, afiliasi politik dan agama mereka.

Kedua, penanganan terhadap kesetaraan gender dan inklusi sosial merupakan suatu investasi cerdas. Riset membuktikan bahwa mengintegrasikan kesetaraan gender dan inklusi sosial ke dalam bisnis dan ekonomi memberikan keuntungan tinggi. Semakin setara dan inklusif secara sosial, semakin baik pula kondisi ekonomi. Sebagai contoh, McKinsey & Company meneliti lebih dari 1.000 perusahaan di seluruh dunia dan menemukan bahwa perusahaan yang pekerjanya lebih beragam cenderung menghasilkan keuntungan yang lebih tinggi dan bernilai dalam jangka lebih panjang. Demikian juga, penelitian yang dilakukan di Queensland pada tahun 2016 menemukan bahwa keterwakilan perempuan yang lebih besar dalam dewan direksi memberikan manfaat nyata bagi perusahaan, pemerintah, dan organisasi nirlaba. Semakin banyak bisnis yang mengadopsi GESI ke dalam penyusunan kebijakan dan praktik perusahaan mereka karena alasan-alasan ini.

 

Bagaimana Katalis menerapkan perspektif GESI dalam aktivitasnya?

Lebih dari sekedar perspektif, GESI mendasari semua aktivitas Katalis. Peningkatan partisipasi, akses, dan peluang bagi perempuan dan mereka yang berasal dari latar belakang yang kurang beruntung, terutama namun tidak terbatas pada mereka yang memiliki kemampuan berbeda, diarusutamakan ke dalam semua aktivitas investasi perdagangan dan kegiatan peningkatan keterampilan. Prinsip ini sejalan dengan kebijakan dan kerangka hukum Indonesia dan Australia yang mengadopsi pendekatan ganda pengarusutamaan dan menyasar GESI. Kebijakan dan Strategi Aksi Kesetaraan Gender dan Inklusi Sosial, Perlindungan Anak juga dilembagakan secara utuh. Tim GESI secara aktif memberikan dukungan teknis kepada seluruh tim.

 

Dari perspektif kesetaraan gender dan inklusi sosial, apa hal utama yang harus dipertimbangkan oleh para pelaku bisnis yang ingin memperoleh dukungan bagi ide-ide aktivitasnya?

Penting bagi para pelaku bisnis, dan kenyataannya semakin lazim di kalangan dunia usaha, untuk menyadari bahwa keseteraan gender dan inklusi sosial merupakan investasi cerdas. Kaum perempuan serta mereka yang memiliki keterbatasan dan kemampuan berbeda merupakan sumber daya yang belum optimal dimanfaatkan. Melalui kebijakan dan praktik yang tepat, mereka akan mampu memberikan manfaat berkelanjutan bagi perusahaan. Ini hasil penelitian yang telah teruji secara baik seperti yang telah disebutkan di atas.

Jika pelaku bisnis ingin mengajukan untuk memperoleh dukungan dari Katalis, mereka perlu mengidentifikasi bagaimana ide yang mereka usulkan dapat berkontribusi pada pencapaian GESI. Bagaimana bisnis yang diusulkan dapat memastikan partisipasi, akses, dan peluang yang setara bagi perempuan dan kelompok yang kurang beruntung seperti mereka yang memiliki kemampuan berbeda? Bagaimana perempuan dan kelompok-kelompok yang kurang beruntung itu dapat memperoleh manfaat dari gagasan yang diajukan? Para pelaku bisnis perlu mengingat bahwa GESI adalah salah satu kriteria investasi Katalis yang harus dipenuhi.

 

Perubahan dimulai dari rumah. Dapatkah Anda membagikan beberapa cara praktis bagi pelaku bisnis dan organisasi lain untuk memperhatikan masalah seputar ketidaksetaraan dan pengucilan sosial di lingkungan mereka sendiri?

Memang benar bahwa perubahan dimulai dari rumah. Kenyataan juga menunjukkan bahwa pekerjaan rumah tangga sebagian besar tetap menjadi tanggung jawab perempuan di seluruh dunia. Semakin banyak pelaku bisnis yang menyadari hal ini dan mulai mengadopsi kebijakan dan praktik yang ramah bagi pekerja perempuan seperti jam kerja fleksibel dan penyediaan jasa penitipan anak, serta memberi dukungan untuk korban kekerasan dalam rumah tangga. Pelaku bisnis mungkin juga perlu mengadopsi perspektif menyeluruh tentang serikat pekerja – perspektif yang melihat mereka sebagai mitra pendukung bisnis dan bukan sebagai hambatan. Serikat pekerja dapat dimanfaatkan sebagai kelompok pendukung untuk meningkatkan keterampilan, kapasitas dan produktivitas pekerja, termasuk bagi perempuan dan penyandang disabilitas. Pendekatan semacam ini berfungsi untuk menumbuhkan loyalitas pekerja dan mengurangi tingkat perputaran pekerja, serta menciptakan lingkungan kerja yang harmonis dan inklusif.

SIARAN PERS

Indonesian-Australian Partnership through IA-CEPA Supports Post-Pandemic Economic Recovery

SIARAN PERS

JAKARTA – Katalis, program kerjasama ekonomi di bawah kerangka Perjanjian Kemitraan Ekonomi Komperehensif Indonesia-Australia (Indonesia-Australia Comprehensive Economic Partnership Agreement/IA-CEPA), bersama Kementerian Perencanaan Pembangunan Nasional/Badan Perencanaan Pembangunan Nasional dan Kedutaan Besar Australia menyelenggarakan pertemuan virtual dengan tema “Mendukung Pemulihan Ekonomi Melalui Kemitraan” pada Selasa, 21 September 2021. Sejak berlaku 5 Juli 2020, IA-CEPA terus mendorong peluang dua arah dalam perdagangan barang dan jasa, penanaman modal, dan peningkatan kapasitas sumber daya manusia, terutama pada masa penting pemulihan ekonomi.

Sebelumnya, pada 6 Juli 2021, pemerintah Indonesia dan pemerintah Australia telah memformalisasikan Katalis sebagai program yang menghubungkan dunia usaha dan pemerintahan dari kedua negara. Katalis berperan penting untuk mempromosikan kolaborasi bilateral, termasuk rantai nilai yang terintegrasi untuk mendorong ekspor ke negara tujuan ketiga.

“Katalis diharapkan membawa perluasan akses pasar, integrasi pasar yang lebih baik, dan kemampuan yang lebih tinggi terutama di bidang manufaktur pangan dan sektor jasa. Kami mendorong semua pihak yang terlibat, termasuk pemerintah, pihak swasta dan akademisi, untuk memanfaatkan peluang berharga yang disediakan Katalis berupa nasihat terpercaya, jaringan lokal, wawasan pasar, dan pengembangan kemampuan bagi setiap pemangku kepentingan. Indonesia menyambut baik tonggak pencapaian ini bagi masa depan yang menjanjikan untuk kemitraan ekonomi Indonesia-Australia yang lebih dalam. Ini juga merupakan landasan yang luar biasa bagi kedua negara untuk mengejar pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan ,” ujar Menteri PPN/Kepala Bappenas Suharso Monoarfa secara virtual.

“Katalis merupakan program pertama semacamnya di bidang perjanjian perdagangan bebas bilateral, dan menunjukkan komitmen Australia untuk memaksimalkan kesepakatan kita. Katalis akan mendukung kemitraan yang lebih dalam untuk meningkatkan investasi perdagangan bilateral,” tutur Menteri Perdagangan, Pariwisata, dan Investasi Australia Dan Tehan.

Diskusi virtual tersebut menampilkan sejumlah pembicara terkemuka baik dari pemerintahan maupun sektor swasta. Para panelis sepakat, kerjasama internasional yang erat, khususnya antarnegara tetangga, penting sebagai bagian dari strategi pemulihan ekonomi pasca-pandemi. Para panelis termasuk Deputi Bidang Ekonomi Kementerian PPN/Bappenas Amalia Adininggar Widyasanti; Acting Minister Counsellor (Economic, Investment and Infrastructure) Kedutaan Besar Australia di Jakarta Mr. Todd Dias; Wakil Rektor Monash University Prof. Andrew MacIntyre; Direktur Utama Indonesia Battery Corporation Toto Nugroho Pranatyasto; Vice President Public Policy, Government Relations and CSR Traveloka Widyasari Listyowulan; dan Direktur Utama Ironbark Citrus Susan Jenkin.

Katalis mendukung implementasi IA-CEPA dalam sektor agrifood, advanced manufacturing/jasa, dan keterampilan. Program ini bekerja erat dengan komunitas bisnis Indonesia dan Australia untuk mengkatalisasi kemitraan komersial bilateral baru, mengatasi regulasi perdagangan serta berinvestasi dalam peningkatan keterampilan tenaga kerja dan perusahaan. “Tantangannya sekarang adalah bagaimana membangun ketahanan dan memfasilitasi kemitraan bisnis-ke-bisnis yang akan memulihkan dan melampaui hubungan perdagangan dan investasi bilateral yang ada sebelum pandemi COVID-19,” ungkap Direktur Katalis Paul Bartlett.

BLOG

Setelah COVID: Indonesia-Australia mempercepat pemulihan

BLOG

Paul Bartlett, Direktur Katalis

Halo dan selamat datang di IA-CEPA ECP Katalis (Katalis). Kami bangga dan bersemangat meluncurkan program bilateral unik ini yang akan membantu mewujudkan peluang besar IA-CEPA bagi bisnis Indonesia dan Australia. Kami memulai misi kami pada saat terjadinya tantangan besar global yaitu COVID-19, yang telah menyebabkan kerusakan ekonomi sangat parah di semua negara di dunia. IMF memperkirakan bahwa ekonomi global menyusut 3,5% pada tahun 2020; ini merupakan penurunan output tertajam selama lebih dari 70 tahun. Perekonomian Australia dan Indonesia sama-sama jatuh ke lubang resesi untuk pertama kalinya dalam beberapa tahun karena kebijakan pembatasan yang diterapkan untuk memperlambat penyebaran virus COVID-19 menyebabkan bisnis mengurangi operasi atau menghentikannya sama sekali. Volume perdagangan barang dan jasa dunia juga turun sekitar 10,4% pada 2020.

Namun, pandemi juga memperlihatkan pentingnya kerja sama internasional yang erat, khususnya antar negara tetangga. Sebagaimana terbukti bahwa sulit bagi setiap negara untuk mengendalikan virusnya sendiri, maka kerja sama menjadi cara paling pasti untuk menjalankan pemulihan dan mendukung pertumbuhan yang inklusif. Ini juga yang mendasari peran dan waktu yang tepat terbentuknya Katalis yang merupakan investasi bersama pemerintah Indonesia dan Australia untuk memperkuat kemitraan ekonomi.

IA-CEPA menyajikan peluang perdagangan dan investasi yang menarik bagi bisnis Australia dan Indonesia agar siap mengembangkan kemitraan yang ada, menciptakan kemitraan baru, dan mendukung pemulihan ekonomi. Meskipun perdagangan bilateral antara kedua negara menurun tajam sejak adanya pandemi, kami tetap melihat adanya peluang ketahanan dan pertumbuhan. Ekspor produk kayu dari Indonesia ke Australia sebenarnya meningkat selama tahun 2020, sementara penurunan jumlah orang Indonesia yang belajar di Australia sebagian diimbangi oleh peningkatan jumlah orang Indonesia yang mendaftar pada pendidikan daring Australia sebesar lebih dari 100%. Tantangannya sekarang, setelah program vaksin diluncurkan di kedua negara, adalah bagaimana membangun ketahanan dan memfasilitasi kemitraan bisnis-ke-bisnis yang akan membantu pemulihan yang kemudian bermanfaat untuk melampaui hubungan perdagangan dan investasi bilateral yang ada sebelum pandemi COVID-19.

Berlokasi di kawasan strategis dengan pertumbuhan ekonomi tercepat di dunia, Australia dan Indonesia berada di posisi yang tepat untuk menjalankan kemitraan baru dan berkembang. Dengan populasi muda dan ekonomi yang berkembang pesat lebih dari US$1 triliun, Indonesia adalah negara dengan peluang yang luar biasa, sementara Australia adalah negara maju berpendapatan tinggi dengan layanan dan keterampilan kelas dunia. Ada banyak sekali komplementaritas komersial di seluruh sektor target Katalis: pertanian/agribisnis, manufaktur berteknologi tinggi dan jasa-jasa professional. Kami berharap dapat bekerja sama dengan bisnis dan pemerintah kedua negara untuk mewujudkan peluang tersebut.
Selama ini, pemerintah hanya dapat menopang perekonomian, seperti halnya yang dilakukan kedua pemerintah secara mengagumkan selama pandemi. Komunitas bisnis, dari perusahaan terkecil hingga terbesar, memiliki kekuatan untuk mendukung pemulihan secara terus menerus. Oleh karena COVID-19 mulai dapat dikendalikan, dan arus barang, jasa, modal, dan manusia mulai kembali berjalan, kemitraan Australia-Indonesia memiliki peran penting untuk terus dilaksanakan.

Itulah yang Katalis tawarkan; bekerja sama dengan komunitas bisnis baik di Indonesia dan Australia, menjadi katalisator kemitraan komersial bilateral baru yang mengatasi regulasi perdagangan, serta berinvestasi dalam peningkatan keterampilan tenaga kerja, perusahaan, masyarakat Indonesia dan Australia secara bersama-sama.

Paul Barlett adalah Direktur IA-CEPA ECP Katalis. Ia berpengalaman selama lebih dari 20 tahun sebagai konsultan pembangunan sektor swasta, perdagangan, investasi dan daya saing di Indonesia, Asia Pasifik, Afrika, Timur Tengah dan Eropa.

WAWASAN

GESI: pemulihan yang digerakkan inklusi

WAWASAN

Perempuan merupakan kelompok yang secara tidak berimbang terdampak COVID-19. Katalis merespon hal ini dengan menempatkan gender dan inklusi sosial sebagai pusat dari semua aktivitas yang kami kerjakan.

Di seluruh dunia, hambatan umum pertumbuhan adalah kegagalan mencapai partisipasi yang setara, keterwakilan kelompok senior, dan upah yang setara bagi perempuan di tempat kerja. Di Indonesia, hanya 54 persen perempuan berada dalam angkatan kerja formal dibandingkan dengan jumlah laki-laki yaitu 84 persen. Angka tersebut sebagian besar tetap tidak berubah selama hampir dua dekade [1]. Ketika perempuan Indonesia dapat bekerja, penghasilan mereka 23 persen lebih rendah dari rata-rata penghasilan laki-laki[2]. Di Australia, tingkat partisipasi angkatan kerja perempuan adalah 61,2 persen, dibandingkan dengan 71,2 persen untuk laki-laki. Perempuan Australia berpenghasilan rata-rata 13,4 persen lebih rendah daripada penghasilan laki-laki [3].

Kesenjangan gender ini membawa implikasi yang signifikan bagi perempuan, yang kehilangan sumber mata pencaharian dan kemandirian; pada bisnis dan industri, yang melewatkan manfaat keragaman dan keterampilan; pada ekonomi nasional, dan yang gagal memanfaatkan sepenuhnya sumber pertumbuhan penting yakni sumber daya manusia. Kesenjangan dalam partisipasi gender, perwakilan di tingkat senior, dan upah terlihat jelas dalam industri yang tingkat perdagangannya tinggi antara Indonesia dan Australia seperti, pertanian, manufaktur, dan pendidikan.

Forum Ekonomi Dunia (World Economic Forum) mengatakan kasus keragaman gender pada bisnis sangat “luar biasa” [4]. Sejumlah penelitian telah menegaskan bahwa keragaman gender setara dengan peningkatan kinerja organisasi, pergeseran norma budaya dan inklusi yang lebih besar [5], dan peningkatan perilaku serta tingkat motivasi [6]. Ada juga bukti menyatakan tempat kerja yang lebih beragam dan kepemimpinan perempuan meningkatkan profitabilitas dan penciptaan nilai jangka panjang [7].

Berangkat dari bukti ini, Katalis menempatkan kesetaraan gender dan inklusi sosial (Gender Equality and Social Inclusion/GESI) sebagai pusat dari semua aktivitas yang kami kerjakan. Tujuan kami adalah menghadirkan GESI ke garis depan dalam semua keputusan dan investasi komersial Katalis. Dengan menggunakan perangkat GESI yang diakui secara internasional, kami mengidentifikasi bagian-bagian dari rantai nilai agar perempuan dan kelompok yang kurang beruntung lainnya dapat terlibat dan memperoleh manfaat dalam kegiatan perdagangan dan investasi yang dijalankan di bawah IA-CEPA. Katalis juga memprioritaskan industri dengan partisipasi perempuan yang tinggi dan yang mengikutsertakan pekerja penyandang disabilitas (misalnya, sektor ekonomi digital dan kesehatan) dalam investasi keterampilan dan pelatihan. Kami juga mensyaratkan minimal 50 persen dari peserta dalam kegiatan, pelatihan, dialog dan acara lainnya adalah perempuan.

Fokus GESI kami mendorong inklusi, perdagangan, dan investasi yang lebih besar di antara usaha kecil menengah (UKM), wirausahawan muda, dan bisnis daerah. Kami mendorong partisipasi beragam peserta dan bisnis dalam kegiatan dan investasi Katalis. Kami juga mengundang semua pemangku kepentingan untuk mengajukan proposal mereka dan memastikan keterwakilan yang luas dalam acara, peluang pelatihan dan keterampilan serta kegiatan peningkatan kapasitas.

Bisnis dan industri yang mencari dukungan Katalis harus mempertimbangkan bagaimana proposal mereka berdampak dan memajukan kesetaraan gender dan inklusi sosial, sebagai kunci untuk inklusi yang lebih besar dan kesuksesan komersial.

Referensi: 
  1. https://melbourneinstitute.unimelb.edu.au/__data/assets/pdf_file/0005/2938388/wp2018n11.pdf
  2. https://www.ilo.org/jakarta/whatwedo/publications/WCMS_755543/lang–en/index.htm
  3. https://www.wgea.gov.au/publications/gender-workplace-statistics-at-a-glance-2020
  4. https://www.weforum.org/agenda/2019/04/business-case-for-diversity-in-the-workplace/
  5. https://www.researchgate.net/publication/304180173_Women’s_Leadership_Matters_The_impact_of_women’s_leadership_in_the_Canadian_federal_public_service
  6. Dezso, Cristian L. and Ross, David Gaddis, Does Female Representation in Top Management Improve Firm Performance? A Panel Data Investigation (March 9, 2011). Robert H. Smith School Research Paper No. RHS 06-104. Available at SSRN: https://ssrn.com/abstract=1088182
  7. McKinsey & Company, Delivering through Diversity, January 2018Boston Consulting Group,  How diverse leadership teams boost innovation, 2018

WAWASAN

Potensi kekuatan besar

WAWASAN

Indonesia dan Australia saling menawarkan area-area pengembangan kepentingan bersama yang belum dimanfaatkan.

Hubungan perdagangan dan investasi antara Indonesia dan Australia sudah kuat, namun ini masih dapat ditingkatkan. Perjanjian Kemitraan Ekonomi Komprehensif Indonesia-Australia (IA-CEPA) menciptakan peluang baru dan menarik bagi bisnis di kedua negara untuk membangun hubungan bilateral dan memperluas pasar. Katalis didirikan berdasarkan Perjanjian tersebut guna mendukung dan mengembangkan bisnis dalam memanfaatkan peluang tersebut. Berikut adalah gambaran dari beberapa area kemitraan dan pertumbuhan kelompok besar ini.

INDONESIA

Dengan jumlah penduduk lebih dari 270 juta, Indonesia adalah negara terbesar keempat di dunia dan ekonomi terbesar di Asia Tenggara. Indonesia didominasi populasi muda: separuh penduduknya berusia di bawah 30 tahun. PDB tahunannya lebih dari US$ 1 triliun, dua kali lipat dari Thailand, tiga kali lipat dari Malaysia, dan empat kali lipat dari Vietnam. Terlepas dari dampak COVID-19, Indonesia secara luas diperkirakan akan menjadi salah satu dari 10 negara dengan ekonomi terbesar di dunia pada tahun 2030.

Sebelum pandemi COVID-19, ekonomi Indonesia tumbuh dengan kecepatan stabil sebesar 5% per tahun. Selama satu dekade terakhir, pendapatan per kapitanya meningkat dua kali lipat dalam dolar AS, dan saat ini Indonesia adalah rumah bagi populasi berpenghasilan menengah aspiratif besar yang uangnya dibelanjakan untuk barang dan jasa internasional. Faktanya, konsumen Indonesia membelanjakan setara US$ 650 miliar setahun. Banyak orang Indonesia bepergian ke luar negeri untuk liburan dan melanjutkan pendidikan, dan Australia menjadi tujuan nomor satu untuk pendidikan tinggi.

Secara historis, perekonomian Indonesia berpusat pada sumber daya alamnya yang melimpah seperti, minyak, gas, batu bara, dan minyak sawit. Namun ini perlahan berubah. Beberapa tahun terakhir telah terlihat pertumbuhan generasi baru perusahaan teknologi Indonesia yang bernilai lebih dari US$ 1 miliar. Sektor otomotif, misalnya, juga berkembang pesat dan mendorong pertumbuhan pasar kendaraan listrik yang pesat. Pemerintah sangat ingin menarik investasi dengan mengumumkan sekitar 245 “sektor prioritas” yang mencakup segala bidang, mulai dari pertanian hingga elektronik dan farmasi.

COVID-19 telah merusak ambisi pembangunan Indonesia. Di sisi lain, guncangan ekonomi juga mendorong pemerintah ke arah reformasi pro-pasar yang bertujuan untuk melakukan pemulihan secara cepat. Perundang-undangan tahun lalu menghapus “Daftar Negatif Investasi” (DNI) yang membatasi investasi asing pada sebagian besar sektor ekonomi sejak diperkenalkan pada tahun 1987. Investor asing sekarang bebas untuk memasuki lebih banyak sektor ekonomi. Ada juga perubahan signifikan pada perizinan dan undang-undang ketenagakerjaan yang mempermudah dalam memulai dan menjalankan usaha. Juga ada rencana untuk reformasi lebih lanjut lainnya.

AUSTRALIA

Australia adalah Negara maju berpendapatan tinggi. Sebelum COVID-19, Negara ini telah bebas dari resesi selama hampir 30 tahun dan tingkat pertumbuhannya lebih stabil daripada negara-negara G7 lainnya. Sejak resesi terakhir pada tahun 1991, ekonomi Australia telah berkembang tiga kali lebih besar daripada Jerman.

Jasa mendominasi perekonomian Australia. Sektor ini menyumbang sekitar 80% dari produk domestik bruto. Australia juga salah satu Negara yang memimpin dalam sektor pendidikan tinggi. Pada tahun 2019, sekolah, perguruan tinggi, dan universitas Australia menarik minat hampir 1 juta siswa luar negeri yang sebagian besar berasal dari Tiongkok dan India. Tujuh universitas Australia masuk ke dalam peringkat 100 teratas dunia. Sektor jasa keuangannya juga kuat. Australia mengelola kumpulan dana pensiun terbesar keempat di dunia — menjadikannya sebagai contoh negara yang berkinerja tinggi melebihi jumlah populasinya.

Australia adalah produsen utama produk pertanian dan pengekspor ternak dan gandum dalam jumlah besar. Australia juga merupakan pengekspor sumber daya penting, terutama batu bara dan bijih besi. Di pasar domestik, investasi dalam energi terbarukan yang bersih seperti, tenaga surya dan angin, juga terus meningkat.

Saya setuju